Ijtihad

BAB II

PEMBAHASAN

 

            2.1     Pengertian Ijtihad

Secara bahasa ijtihad berarti pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Yaitu penggunaan akal sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam al-Quran dan as-Sunnah. Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abdullah bin Mas’ud sebagai berikut : ” Berhukumlah engkau dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, apabila sesuatu persoalan itu engkau temukan pada dua sumber tersebut. Tapi apabila engkau tidak menemukannya pada dua sumber itu, maka ijtihadlah “.

Kepada Ali bin Abi Thalib beliau pernah menyatakan : ” Apabila engkau berijtihad dan ijtihad mu betul, maka engkau mendapatkan dua pahala. Tetapi apabila ijtihad mu salah, maka engkau hanya mendapatkan satu pahala “. Muhammad Iqbal menamakan ijtihad itu sebagai the principle of movement. Mahmud Syaltut berpendapat, bahwa ijtihad atau yang biasa disebut arro’yu mencakup dua pengertian :

a. Penggunaan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak ditentukan secara

eksplisit oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.

b. Penggunaan fikiran dalam mengartikan, menafsirkan dan mengambil kesimpulan dari

sesuatu ayat atau hadits.

Menurut istilah ijtihad adalah suatu upaya pemikiran yang sungguh-sungguh untuk menegaskan prasangka kuat yang didasarkan suatu petunjuk yang berlaku atau penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan suatu yang terdekat dengan kitabullah dan sunnah rosululloh SAW.

 

 

 

 

 

 

 

          2.2     Dasar Ijtihad

Ijtihad bisa sumber hukumnya dari al-qur’an dan alhadis yang menghendaki digunakannya ijtihad.

a.         Firman Allah :

●          Dalam Surat An-Nisa’ Ayat 59 yang artinya: Hai orang-orang yang             beriman taatilah allah dan taatilah rosul dan orang-orang yang memegang      kekuasaan diantara kamu kemudian jika kamu berselisih pendapt tentang sesuatu      maka kembalikanlah ia kepada allah(alqur’an dan sunnah nabi)

            ●          Dalam surat Al-Anfal yang artinya : “Mereka menanyakan kepadamu          tentang pembagian harta rampasan perang. Katakanlah, hanya rampasan perang             itu keputusan Allah dan rosul sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah     hubungan diantara sesamamu, dan taatilah kepada Allah dan Rosulnya jika kamu     adalah orang-orang yang beriman”.

●          Dalam surat Al-Anfal ayat 41 yang artinya : “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampaan perang maka sesungguhnya setengah untuk Allah, Rosul, Kerabat rosul, anak-anak yatim, orang-oarang miskin dan ibnu sabil. Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami muhammad dari hari furqon yaitu bertemunya dua pasukan. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu”.

b.         Sabda Rosullullah Saw:

●          Dari mu’adz bin jabal ketika nabi muhammad saw mengutusnya ke yaman untuk   bertindak sebagai hakim beliau bertanya kepda mu’adz apa yang kamu            lakukan jika kepadamu diajukan suatu perkara yang harus di putuskan? Mua’dz        menjawab, “aku akan memutuskan berdasarkan ketentuan yang termaktuk dalam         kitabullah” nabi bertanya lagi “bagaimana jika dalam kitab allah tidak terdapat             ketentuan tersebut?” mu’adz menjawab, ” dengan berdasarkan sunnah rosulullah”. Nabi    bertanya lagi, “bagaimana jika ketentuan tersebut tidak terdapat pula             dalam sunnah rosullullah?” mu’adz menjawab, “aku akan menjawab dengan        fikiranku, aku tidak akan membiarkan suatu perkara tanpa putusan” , lalu mu’adz             mengatakan, ” rosullulah kemudian menepuk dadaku seraya mengatakan, segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepada utusanku untuk hal       yang melegakan”.

c.         Ijtihad seorang sahabat Rosulullah SAW, Sa’adz bin Mu’adz ketika membuat         keputusan hukum kepada bani khuroidhoh dan rosulullah membenarkan hasilnya,        beliau bersabda “Sesungguhnya engkau telah memutuskan suatu terhadap mereka      menurut hukum Allah dari atas tujuh langit”.

Artinya hadist ini menunjukkan bahwa ijtihad sahabat tersebut mempunyai             manfaat dan dihargai oleh rosulullah.

            2.3     Ruang Lingkup Ijtihad

Ruang lingkup ijtihad ialah furu’ dan dhoniah yaitu masalah-masalah yang tidak ditentukan secara pasti oleh nash Al-Qur’an dan Hadist. Hukum islam tentang sesuatu yang ditunjukkan oleh dalil Dhoni atau ayat-ayat Al-qur’an dan hadis yang statusnya dhoni dan mengandung penafsiran serta hukum islam tentang sesuatu yang sama sekali belum ditegaskan atau disinggung oleh Al-qur’an, hadist, maupan ijma’ para ulama’ serta yang dikenal dengan masail fiqhiah dan waqhiyah

 

          2.4     Jenis – jenis Ijtihad

            a.         Ijma’

Ijma’ artinya kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam        menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits       dalam suatu perkara yang terjadi. Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh         para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati.            Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama             yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.

 

 

b.         Qiyâs

Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan          suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya    namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek     dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. Dalam Islam, Ijma dan Qiyas   sifatnya darurat, bila memang terdapat hal hal yang ternyata belum ditetapkan       pada masa-masa sebelumnya.

Beberapa definisi qiyâs (analogi)

●          Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya,     berdasarkan titik persamaan di antara keduanya.

●          Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu   persamaan di antaranya.

●          Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam        Al-Qur’an atau Hadist dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (iladh).

c.         Istihsân

Beberapa definisi Istihsân :

●          Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih), hanya karena dia     merasa hal itu adalah benar.

●          Argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara    lisan olehnya

●          Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk maslahat       orang banyak.

●          Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan.

●          Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara     yang ada sebelumnya.

d.         Maslahah Murshalah

Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskhnya dengan     pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat     dan menghindari kemudharatan.

e.         Sududz Dzariah

Adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau        haram demi kepentinagn umat.

f.          Istishab

Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada          alasan yang bisa mengubahnya.

g.         Urf

Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan          kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan    dengan aturan-aturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis.

 

          2.5     Syarat Mujtahid

Syarat-syarat umum yang disepakati oleh para ulama’ menurut Dr. Yusuf Qordhowi sebagai berikut:

    1. Harus mengetahui Al-Qur’an dan ulumul Qur’an:
  • Mengetahui sebab-sebab turunnya ayat
  • Mengetahui sepenuhnya sejarah pengumpulan atau penyusunan al-qur’an.
  • Mengetahui sepenuhnya ayat-ayat makiyah dan madaniyah, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, dan sebagainya
  • Menguasai ilmu tafsir, pengetahuan tentang pemahaman al-qur’an.

 

    1. Mengetahui Assunah dan ilmu Hadits
    2. Mengetahui bahasa arab
    3. Mengethui tema-tema yang sudah merupakan ijma’
    4. Mengetahui usul fiqih
    5. Mengetahui maksud-maksud sejarah
    6. Mengenal manusia dan alam sekitarnya
    7. Mempunyai sifat adil dan taqwa

syarat tambahan :

    1. Mengetahui ilmu ushuluddin
    2. Mengetahui ilmu mantiq
    3. Mengetahui cabang-cabang fiqih

 

            2.6     Tingkatan-Tingkatan Para Mujtahid

Para mujtahid mempunyai tingkatan-tingkatan:

1.   Mujtahid mutlaq atau mujtahid mustakhil yaitu mujtahid yang mempunyai pengetahuan lengkap untuk berisbad dengan Al-qur’an dan Al-hadits dengan menggunakan kaidah mereka sendiri dan diakui kekuatannya oleh tokoh agama yang lain. Para mujtahid ini yang paling terkenal adalah imam madzhab empat.

 

2.   Mujtahid muntasib yaitu mujtahid yang terkait oleh imamnya seperti keterkaitan murid dan guru mereka adalah imam Abu Yusuf, Zarf bin Huzail yang merupakan murid imam Abu Hanifah

 

3.   Mujtahid fil madzhab yaitu para ahli yang mengikuti para imamnya baik dalam usul maupun dalam furu’ misalnya imam Al-Muzani adalah mujtahid fil madzhab Syafi’i

 

4.   Mujtahid tarjih yaitu mujtahid yang mampu menilai memilih pendapat sebagai imam untuk menentukan mana yang lebih kuat dalilnya atau mana yang sesuai dengan situasi kondisi yang ada tanpa menyimpang dari nash-nash khot’i dan tujuan syariat, misalnya Abu Ishaq al syirazi, imam Ghazali.

 

          2.7              Fungsi Ijtihad

Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detil oleh Al Quran maupun Al Hadist. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari.

Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran.

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s